Mutiara Nada, Dua Bulan Berlatih Tenis Meja, Mulai Tunjukkan Potensi Lewat Smash Kencang

Kab Cirebon – Dunia olahraga tenis meja kembali menghadirkan bibit muda yang menarik perhatian. Salah satunya adalah Mutiara Nada, siswi kelas 6 MI Alwashliyah Perbutulan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, yang baru sekitar dua bulan mengenal dan menekuni olahraga tenis meja.

Meski terbilang masih sangat baru, Mutiara Nada mulai menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Dengan usia yang masih belia dan waktu latihan yang relatif singkat, ia sudah mampu memperlihatkan kemampuan dasar permainan tenis meja, terutama pukulan smash yang dinilai cukup kencang.

Mutiara Nada lahir di Cirebon pada 11 Maret 2015. Saat ini ia duduk di kelas 6 MI Alwashliyah Perbutulan. Di tengah kesibukannya sebagai seorang pelajar, Mutiara mulai meluangkan waktu untuk berlatih tenis meja secara rutin.

Ketertarikannya terhadap tenis meja tersebut kemudian mendapatkan arahan dari salah seorang pelatih yang cukup berpengalaman, Sutardi. Di bawah bimbingan pelatih kawakan tersebut, Mutiara mulai mempelajari berbagai teknik dasar permainan tenis meja, mulai dari cara memegang bet, posisi tubuh, gerakan kaki, pengembalian bola, hingga mengembangkan pukulan serangan.

Walaupun baru dua bulan berlatih, perkembangan Mutiara mulai terlihat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pukulan smash-nya yang sudah cukup kencang untuk ukuran pemain pemula.

Smash merupakan salah satu teknik penting dalam permainan tenis meja karena dapat menjadi senjata untuk memberikan tekanan kepada lawan. Namun demikian, kekuatan pukulan tentu perlu diimbangi dengan ketepatan, kontrol bola, penempatan, serta kemampuan membaca permainan.

Karena itu, perjalanan Mutiara masih cukup panjang. Ia membutuhkan latihan yang konsisten, disiplin, kesabaran dan pengalaman bertanding agar kemampuan yang dimilikinya dapat terus berkembang.

Saat ditemui di GOR Tenis Meja, Sabtu (8/8/2026), Dadang Yusni selaku orang tua Mutiara Nada menyampaikan dukungannya terhadap minat dan bakat yang dimiliki putrinya.

Menurut Dadang, dirinya akan terus memberikan dukungan apabila Mutiara memang memiliki keinginan untuk serius menekuni tenis meja. Dukungan tersebut tidak hanya dalam bentuk fasilitas latihan, tetapi juga memberikan motivasi agar anaknya dapat menjalani proses pembinaan dengan sungguh-sungguh.

“Kami sebagai orang tua tentu akan mendukung kalau memang anak mempunyai keinginan dan bakat di bidang tenis meja. Mudah-mudahan dengan latihan yang rutin dan bimbingan dari pelatih, kemampuannya bisa terus berkembang,” ujar Dadang.

Bagi orang tua, menjadi atlet bukanlah sesuatu yang bisa diraih secara instan. Dibutuhkan proses panjang, mulai dari latihan, pembinaan, mengikuti pertandingan, menerima kekalahan, mengevaluasi permainan, hingga akhirnya mampu meraih prestasi.

Dadang berharap perjalanan Mutiara di dunia tenis meja dapat menjadi pengalaman positif sekaligus membentuk karakter anak. Menurutnya, olahraga bukan hanya mengenai menang dan kalah, tetapi juga mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, keberanian, sportivitas dan kerja keras.

Sementara itu, kehadiran Sutardi sebagai pelatih menjadi bagian penting dalam proses awal perjalanan Mutiara. Dengan pengalaman yang dimiliki, pembinaan diharapkan dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan usia dan kemampuan atlet.

Mutiara pun diharapkan tidak terburu-buru mengejar hasil. Sebagai pemain yang baru mengenal tenis meja sekitar dua bulan, yang paling penting saat ini adalah membangun fondasi teknik yang kuat.

Kemampuan smash yang sudah mulai terlihat dapat terus diasah. Namun, Mutiara juga perlu memperkuat teknik lainnya seperti forehand, backhand, service, receive, block, footwork, kontrol bola serta variasi pukulan.

Jika proses latihan dapat dijalani secara konsisten, bukan tidak mungkin kemampuan Mutiara akan berkembang lebih jauh. Apalagi usia yang masih muda memberikan kesempatan cukup panjang untuk menjalani pembinaan dan menambah pengalaman bertanding.

GOR Tenis Meja menjadi salah satu tempat bagi Mutiara untuk terus mengembangkan kemampuannya. Dari tempat latihan inilah proses seorang pemain pemula ditempa menjadi atlet yang lebih matang.

Perjalanan Mutiara Nada masih berada pada tahap awal. Dua bulan tentu belum cukup untuk mengukur sejauh mana potensi yang dimilikinya. Namun, semangat berlatih, dukungan orang tua dan bimbingan pelatih menjadi modal penting untuk melangkah ke tahap berikutnya.

Bagi Mutiara, setiap bola yang dipukul adalah bagian dari proses belajar. Setiap latihan adalah kesempatan untuk memperbaiki teknik, dan setiap pertandingan nantinya akan menjadi pengalaman untuk membangun mental sebagai seorang atlet.

Dengan dukungan keluarga dan pembinaan yang berkelanjutan, Mutiara Nada diharapkan mampu terus berkembang dan kelak menjadi salah satu atlet tenis meja muda Kabupaten Cirebon yang memiliki prestasi.

▪︎ Perjalanan itu baru dimulai.
Dari dua bulan mengenal tenis meja, dari sebuah bet yang mulai akrab di tangan, dari latihan demi latihan, Mutiara Nada sedang menapaki langkah pertamanya menuju dunia olahraga prestasi.