Kab Cirebon – Pagi itu, Rabu, 29 April 2026, Kedawung masih diselimuti udara yang adem. Tapi di dalam Ballroom Apita, Jalan Tuparev, Kabupaten Cirebon, dada para orang tua sudah lebih dulu hangat. Hangat oleh harap, oleh debar, oleh doa yang tak putus sejak anaknya mengenal huruf pertama.
Ano Suwarno, S.Pd., SD datang jauh lebih awal. Kursi-kursi masih banyak yang kosong. Panggung masih sunyi. Tapi bagi seorang ayah, menunggu adalah bentuk lain dari mencintai. Di sampingnya, sang istri merapikan lipatan selendang, matanya sesekali mencuri pandang ke pintu, mencari sosok yang dulu setiap pagi dibangunkan untuk berangkat sekolah.
Hari ini, anak bungsunya, Tiarani Salsabillah, S.H., diwisuda. Gelar Sarjana Hukum dari Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon itu bukan sekadar tambahan huruf di belakang nama. Bagi Ano, ia adalah catatan panjang tentang lampu belajar yang tak pernah padam, tentang buku yang dibelikan dengan menyisihkan tunjangan, tentang sujud panjang setiap sepertiga malam.
Sebagai Ketua PGRI Tengahtani sekaligus Kepala SD Negeri 1 Kemlaka Gede, Ano sudah ribuan kali menyaksikan murid naik panggung. Tapi hari ini berbeda. Hari ini, yang namanya dipanggil adalah darah dagingnya sendiri. Yang melangkah dengan toga hitam itu adalah Tiara, si bungsu yang dulu merengek minta ditemani mengerjakan PR.
Ketika “Tiarani Salsabillah, S.H.” menggema di ballroom, Ano menegakkan duduknya. Istrinya menggenggam jemarinya erat. Di atas panggung, Tiara berjalan pelan. Tegap. Matanya berkaca, tapi senyumnya utuh. Saat kuncir toga dipindah dari kiri ke kanan, ada yang runtuh diam-diam di dada Ano. Itu suara bangga yang tak bisa diucapkan.
“Jujur saja,” bisik Ano setelah prosesi, suaranya serak, “kami bangga sekali. Terharu. Rasanya semua ikhtiar kami sebagai orang tua dijawab hari ini.”
Ano tahu, momen seperti ini tidak boleh hilang ditelan waktu. Maka usai wisuda, ia dan keluarga besar bergegas ke studio foto. Di sana, Tiara kembali berbalut toga. Bukan lagi dengan gugup, tapi dengan lega. Cahaya studio menyorot wajahnya yang ayu. Jepretan kameranya profesional, rapi, detail. Namun yang paling mahal dari foto itu bukan teknisnya. Yang paling mahal adalah cara Tiara menyandarkan kepala ke bahu ayahnya, seolah berkata, “Pak, ini untuk Bapak dan Ibu.”
Perayaan belum usai. Kebahagiaan harus dirayakan dengan sesuatu yang membumi. Ano mengajak seluruh keluarga menyingkir dari riuhnya kota. Mereka menuju Plumbon. Ke sebuah saung bambu di tengah sawah yang padinya mulai menguning. Angin sore menyapa, capung menari di atas pematang.
Di meja panjang, tersaji kemewahan yang sederhana: ikan goreng kering kerontang, ikan bakar yang kulitnya garing dengan daging lembut, sambal dadak di cobek tanah, lalapan yang baru dipetik, nasi liwet yang kepulannya masih menari. Di situlah tawa lepas. Di situlah cerita-cerita lama dibuka kembali. Tentang Tiara yang dulu takut maju presentasi, tentang skripsinya yang revisi sampai babnya di luar kepala, tentang Ano yang setiap malam memeriksa tugas sekolah sambil menunggui Tiara mengerjakan tugas kuliah.
Kini semua pahit itu berubah jadi kelakar. Ditemani suara angin di sela padi, diiringi canda cucu yang berlarian di galengan.
Ano memandang sekelilingnya. Istrinya yang masih cantik dengan kebaya. Anak-anaknya yang sudah tumbuh menjadi manusia. Dan Tiara, si bungsu, yang kini resmi menyandang gelar S.H. Di tengah hamparan sawah itu, Ano merasa lulus. Bukan dari universitas, tapi dari sekolah kehidupan. Sekolah menjadi orang tua.
Sebab bagi seorang pendidik seperti Ano Suwarno, wisuda anak adalah rapor paling jujur. Dan hari itu, di bawah langit Plumbon yang berubah jingga, ia mendapat nilai paling sempurna: seorang anak yang tumbuh menjadi harapan.

Toga boleh dilepas. Pesta boleh usai. Tapi bangga itu, akan tinggal selamanya. (*)