Kab Cirebon – Minggu siang, 26 April 2026, Warung kopi sederhana di kawasan Sumber, Kabupaten Cirebon, mendadak jadi saksi peristiwa langka. Dua tokoh penting tenis meja Cirebon duduk semeja, menyeruput kopi hitam, sambil tertawa lepas mengenang masa muda.
Mereka adalah Jimi Ing, legenda hidup tenis meja Kota Cirebon, dan H. Bambang Sulistyono, SE, Wakil Ketua Umum Pengcab PTMSI Kabupaten Cirebon yang juga Ketua PTM Klaber Klangenan. Pertemuan santai ini jarang terjadi. Keduanya sama-sama sibuk: satu di gelanggang pembinaan atlet, satu lagi di meja kerja sebagai analis keuangan.
Pantauan di lapangan, sekitar pukul 13.00 WIB, keduanya tampak begitu cair. Tak ada sekat senior-junior, tak ada kaku protokoler organisasi. Yang ada hanya dua kawan lama yang disatukan oleh bola kecil berwarna putih dan suara khas “tok-tok” bet beradu.
“Zaman dulu latihan di GOR seadanya, bet juga tambal sulam. Tapi semangatnya luar biasa,” seloroh Jimi Ing, disambut tawa H. Bambang. Matanya berbinar mengingat masa ketika nama Cirebon mulai diperhitungkan di kancah tenis meja Jawa Barat.
H. Bambang Sulistyono, yang sehari-hari bergelut dengan angka dan laporan keuangan, terlihat rileks. Jas analisnya ia tanggalkan sejenak, berganti obrolan nostalgia. “Pak Jimi ini guru kita semua. Teknik, mental, militansi di meja, beliau lengkap,” puji H. Bambang.
Pujian itu langsung dibalas. “Pak Bambang justru luar biasa. Sibuk ngurus keuangan, masih sempat ngurus PTM Klaber sampai maju. Itu baru pengabdian,” timpal Jimi Ing sambil mengangkat cangkir kopinya. Keduanya lantas beradu cangkir, tanda hormat seorang legenda untuk penggerak organisasi.
Obrolan ngalor-ngidul itu mengalir hampir satu jam. Dari kisah kejurnas era 90-an, atlet binaan yang kini jadi pelatih, hingga harapan agar Cirebon dan Brebes bisa sama-sama melahirkan atlet nasional dari latih tanding hari ini.
Momen seperti ini mahal. Di tengah hiruk-pikuk kejuaraan dan target prestasi, ngopi santai antara legenda dan pimpinan cabang olahraga justru jadi oase. Tak ada agenda resmi, tak ada notulen rapat. Yang ada hanya transfer semangat lintas generasi, ditemani pahitnya kopi Sumber dan manisnya kebersamaan.
Sebelum berpisah, keduanya sepakat: tenis meja Cirebon harus terus “hidup”. Bukan cuma di GOR, tapi juga di warung kopi, di obrolan warung, di hati anak-anak muda yang baru pegang bet.
Langit Sumber Minggu siang itu terasa lebih adem. Mungkin karena dua tokohnya sedang merajut kembali sejarah, satu seduhan kopi dalam satu waktu. (*)